Sejumlah anggota masyarakat bekerja di persemaian kelompok.

Rehabilitasi Hutan Bukan Sekadar Menanam Pohon

Rehabilitasi sering dijelaskan melalui luas area, jumlah bibit, dan hari penanaman. Di lapangan, angka-angka itu hanya menceritakan sebagian kisah. Pekerjaan yang lebih sulit adalah menyelaraskan orang, riwayat lahan, tanggung jawab, pemeliharaan, dan bukti dari waktu ke waktu.

Apa yang kami pelajari dari pengalaman di Singingi

Sepanjang 2019 hingga 2021, Yayasan Hutanriau mendukung pendampingan masyarakat dalam program pemerintah untuk rehabilitasi hutan dan lahan di 11 desa di Kuantan Singingi. Program ini mencakup 8.750 hektare, kemudian dilanjutkan dengan dukungan pemeliharaan tahun kedua pada 5.000 hektare. Area pemeliharaan tersebut merupakan bagian dari cakupan program sebelumnya, bukan area terpisah yang perlu dijumlahkan.

Peran Hutanriau bukan sekadar menghitung bibit. Tim lapangan bekerja bersama masyarakat dan para pihak dalam program untuk mengelola partisipasi, harapan setempat, akses, pengorganisasian kerja, serta risiko sehari-hari ketika mencapai lokasi rehabilitasi.

Target penanaman dapat menggerakkan kegiatan. Rehabilitasi jangka panjang membutuhkan sistem sosial yang mampu terus merawat lokasi setelah kegiatan penanaman selesai.

Lima pembelajaran praktis

1. Perjelas peran sebelum pekerjaan dimulai

Masyarakat, instansi pemerintah, pengelola kawasan, pemasok, pendamping lapangan, dan tim pemantauan dapat terlibat dalam satu program. Ketidakjelasan tentang siapa yang memutuskan, memverifikasi, memelihara, dan menanggung risiko dapat melemahkan pelaksanaan. Peta peran sederhana serta jalur komunikasi yang disepakati perlu disiapkan sebelum kegiatan lapangan dimulai.

2. Pahami riwayat lahan dan pemanfaatannya oleh masyarakat

Blok rehabilitasi yang dipetakan tidak pernah hanya berupa ruang teknis. Di dalamnya mungkin terdapat area penghidupan, bekas kebun, hubungan adat, akses yang diperselisihkan, atau beragam ingatan tentang penggunaan lahan. Mendengarkan sejak awal dan melakukan pemetaan partisipatif membantu mengenali kenyataan ini sebelum berkembang menjadi konflik.

3. Tempatkan pemeliharaan sebagai tahap utama

Penanaman mudah terlihat dan dilaporkan. Pemeliharaan berjalan lebih lambat dan kurang terlihat, tetapi menentukan apakah bibit memiliki peluang nyata untuk bertahan hidup. Karena itu, anggaran, tanggung jawab, akses lokasi, dan waktu pelaksanaan berdasarkan musim perlu dirancang sejak awal dengan pemeliharaan sebagai pertimbangan utama.

4. Bedakan kegiatan, hasil, dan dampak

Jumlah bibit yang ditanam dan luas area yang dicakup merupakan keluaran. Kelangsungan hidup bibit, pemulihan vegetasi, dan perbaikan kondisi ekologis merupakan hasil yang perlu diukur kemudian. Klaim yang lebih luas tentang pemulihan ekosistem atau berkurangnya risiko bencana membutuhkan bukti yang lebih kuat dalam jangka waktu lebih panjang.

5. Bangun kemampuan lokal, bukan hanya tenaga kerja jangka pendek

Partisipasi masyarakat lebih kuat ketika orang memahami tujuan pekerjaan, memiliki peran yang jelas, dapat menyampaikan kekhawatiran dengan aman, dan terlibat dalam pembelajaran dari hasil. Program rehabilitasi seharusnya meninggalkan pengetahuan serta organisasi lokal yang lebih kuat, bukan hanya target pekerjaan yang selesai.

Artinya bagi perancangan program

  • Lakukan penapisan sosial dan tenurial sebelum lokasi ditetapkan.
  • Sepakati peran dalam pengambilan keputusan, penanganan keluhan, dan verifikasi sejak awal.
  • Rencanakan pemeliharaan, pemantauan, dan penyulaman secara terpadu.
  • Gunakan pengetahuan lokal untuk memahami musim, pemilihan jenis, dan akses.
  • Laporkan keluaran yang telah diverifikasi dengan jelas, serta nyatakan hal yang belum diketahui.

Ruang lingkup pembelajaran ini

Refleksi ini tidak menyatakan bahwa seluruh area program direhabilitasi langsung oleh Hutanriau atau bahwa pemulihan ekologis telah terbukti di semua lokasi. Tulisan ini membahas pengalaman pendampingan Hutanriau dan pembelajaran praktis yang didokumentasikan selama pelaksanaan.

Similar Posts