Lebih dari Sekadar Lomba: Kebudayaan yang Menghidupkan Pacu Jalur
Dari identitas desa dan tradisi lisan hingga kayu, sungai, dan hutan, Pacu Jalur hidup melalui sistem budaya yang jauh melampaui hari perlombaan.
Pada 21 Agustus 2026, Pacu Jalur sedang berlangsung di Sungai Kuantan.
Di Tepian Narosa, jalur-jalur kayu panjang melaju di atas air berwarna cokelat, sementara ribuan orang memenuhi tepian sungai. Setiap desa memberi semangat kepada awak jalurnya. Lapak-lapak sementara memadati tepi air. Perahu, penonton, musik, dan pergerakan manusia mengubah sungai menjadi pesta rakyat yang besar.
Pada saat yang sama, beberapa kilometer dari sana, sebuah pertemuan yang jauh lebih kecil mengajukan pertanyaan berbeda.
Di ab_phituluiQ Beranda Studio, Kuantan Tengah, orang-orang duduk melingkar di lantai sambil menikmati kopi dan makanan ringan. Tidak ada meja konferensi, panggung resmi, atau rangkaian presentasi.
Tokoh adat, pelaku budaya, peneliti, pegiat lingkungan, orang-orang yang berkaitan dengan pariwisata, dan pengunjung Pacu Jalur berbicara tentang hal yang terjadi di luar perlombaan.
Percakapan dimulai dengan satu pertanyaan sederhana dalam bahasa Kuantan.
“Kan dibao kamano Pacu Jalur ko?”
Ke mana Pacu Jalur akan kita bawa?
Di luar ruangan, Pacu Jalur sedang dirayakan.
Di dalam, percakapan membahas hal-hal yang perlu tetap hidup agar perayaan itu dapat berlanjut.

Lebih dari Sekadar Lomba
Bagi Dt. Paduko Rajo, titik awalnya jelas.
“Pacu itu bukan nomor satunya yang penting. Pestanya itu yang penting.”
Dt. Paduko Rajo
Kompetisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pacu Jalur.
Desa menyiapkan awak jalur. Para pendukung mengikuti setiap putaran. Kemenangan dapat menjadi sumber kebanggaan yang dikenang lama setelah acara berakhir.
Namun, perlombaan hanyalah salah satu wujud dari sesuatu yang lebih besar.
“Hakikatnya Pacu Jalur itu pesta rakyat.”
Kalimat ini penting karena Pacu Jalur sedang berubah.
Pacu Jalur semakin dikenal. Pengunjung terus bertambah. Sponsor semakin menonjol. Kegiatan ekonomi di sekitar festival meluas. Melalui televisi dan media sosial, gambar perlombaan kini menjangkau jauh melampaui Kuantan Singingi.
Pertumbuhan itu sendiri bukan masalah.
Pertanyaannya adalah apa yang tetap berada di pusat tradisi ketika pertumbuhan itu berlangsung.
Sebuah jalur tetap membawa identitas desa. Di belakangnya ada orang-orang yang menyumbangkan waktu, uang, tenaga, dan pengetahuan. Jauh sebelum awak jalur mencapai garis awal, berbagai keputusan telah dibuat, tanggung jawab dibagi, dan pekerjaan bersama dilakukan.
Karena itu, Pacu Jalur bukan sekadar sesuatu yang ditonton.
Ia dibuat dan dihidupkan oleh masyarakat.

Perbedaan ini juga membentuk cara Sita Rohana melihat tradisi tersebut.
“Tradisi itu tidak pernah berdiri sendiri. Tradisi selalu terkait dengan manusianya dan juga lingkungannya.”
Hal yang dilihat pengunjung di Tepian Narosa merupakan bagian paling spektakuler dari Pacu Jalur, tetapi bukan keseluruhan tradisi.
Sebelum hari perlombaan, ada musyawarah desa, peran adat, keterampilan membuat jalur, cerita, tradisi lisan, dan hubungan antargenerasi. Ada Rarak Godang dan Randai Kuantan. Ada orang-orang yang mengingat cara lama, serta generasi muda yang mungkin mewarisi pengetahuan itu, atau mungkin tidak.
Sita menggambarkan jalur sebagai wadah yang membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada perahunya sendiri, seperti keranjang yang dipenuhi tradisi.
“Kita melihat Pacu Jalur pada eventnya, pada festivalnya, pada pacunya, tetapi kita melupakan orang kampung yang menyokongnya.”
Memahami Pacu Jalur hanya dari sungai berarti datang ketika kisahnya hampir sampai di bagian akhir.
Kisah sebuah jalur dimulai jauh sebelumnya.
Perjalanan Sebuah Jalur Menuju Sungai
Sebuah jalur mudah dikenali ketika sedang berlomba.
Bentuknya panjang dan ramping, dipenuhi pendayung yang bergerak hampir serempak. Nama atau identitas desa ikut melaju bersamanya. Penonton tahu jalur mana yang mereka dukung.
Namun, sebelum menjadi perahu pacu, jalur merupakan hasil dari rangkaian hubungan yang panjang.
Seseorang perlu mengetahui jenis pohon yang dapat menjadi jalur.
Seseorang perlu mengetahui tempat pohon itu tumbuh.
Masyarakat perlu memutuskan bersama apakah pohon tersebut sesuai. Kayunya harus dikerjakan oleh orang yang memahami sifatnya. Perahu itu kemudian dibawa dari darat ke air dan diubah menjadi sesuatu yang mewakili sebuah komunitas.
Dengan cara pandang ini, jalur bukan sekadar benda dari kayu.
Jalur menjadi tempat bertemunya bahan, pengetahuan, kerja bersama, dan identitas.
Di sinilah percakapan di dalam studio mulai bergerak dari kebudayaan menuju ekologi.
Sita menyampaikannya dengan sederhana:
“Kita juga melupakan bagaimana lingkungan menyediakan bahan untuk jalurnya.”
Kayu itu harus berasal dari suatu tempat.
Sebelum menjadi kayu, ia adalah pohon yang hidup.
“Tidak ada Pacu Jalur tanpa jalur. Tidak ada jalur tanpa kayu. Dan tidak ada kayu tanpa hutan.”
Melki Rumania, Yayasan Hutanriau
Ini bukan soal menempatkan tradisi di satu sisi dan konservasi hutan di sisi lain.
Justru sebaliknya.
Hutan adalah bagian dari hal yang memungkinkan tradisi ini tetap ada.
Sebelum Berpacu, Sebuah Jalur Tumbuh Puluhan Tahun di Hutan

Satu perlombaan mungkin hanya berlangsung beberapa menit.
Pohon yang diperlukan untuk membuat jalur dapat tumbuh selama puluhan tahun sebelum dipilih.
“Sebelum sebuah jalur berpacu di sungai, ia terlebih dahulu tumbuh puluhan tahun di hutan.”
Melki Rumania
Perbedaan waktu yang sederhana ini mengubah cara kita memahami masa depan Pacu Jalur.
Pacu Jalur kembali setiap tahun.
Pohon besar tidak tumbuh kembali dalam waktu setahun.
Salah satu lanskap hutan yang terkait dengan masa depan tersebut adalah Hutan Lindung Bukit Batabuh, salah satu kawasan sumber utama kayu jalur di Kuantan Singingi.
Dari udara, sebagian besar Bukit Batabuh masih tertutup hutan. Punggung bukit membentang di seluruh lanskap. Aliran air menyusuri vegetasi. Di beberapa tempat, jalan dan bukaan memutus tajuk hutan.
Lanskap ini bukan sekadar latar bagi kisah budaya.
Ia adalah bagian dari kisah tersebut.

Di suatu tempat di hutan seperti Bukit Batabuh terdapat pohon-pohon yang mungkin menjadi jalur pada masa depan. Bersama pohon itu hidup pula pengetahuan: cara mengenalinya, alasan jenis tertentu dipilih, kapan pohon dianggap sesuai, tempat menemukannya, dan cara memperlakukannya.
Jika pohon yang sesuai semakin sulit ditemukan, bukan hanya sumber kayu yang terancam.
Praktik serta pengetahuan yang menyertainya juga semakin sulit diwariskan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan yang tidak dapat dijawab hanya dengan menyiapkan perlombaan tahun depan.
Jenis pohon apa yang secara turun-temurun digunakan?
Di mana pohon yang sesuai masih dapat ditemukan?
Berapa lama pohon itu perlu tumbuh?
Berapa banyak calon pohon jalur yang sedang tumbuh kembali sekarang?
Dapatkah masyarakat mulai mengenali dan melindungi pohon yang mungkin dibutuhkan puluhan tahun mendatang?
Dapatkah menanam dan merawat calon pohon jalur pada akhirnya menjadi bagian dari siklus budaya itu sendiri?
“Kita bisa menghitung berapa jalur yang dibuat setiap tahun. Tetapi apakah kita sudah tahu berapa pohon calon jalur yang sedang kita siapkan untuk dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang?”

Belum ada jawaban lengkap.
Namun, mengajukan pertanyaan tersebut mengubah rentang waktunya.
Kita diajak memikirkan bukan hanya festival berikutnya, tetapi juga orang-orang yang akan mewarisi Pacu Jalur dua puluh atau tiga puluh tahun dari sekarang.
Tradisi Hanya Hidup Jika Diwariskan
Pertanyaan tentang waktu juga muncul dalam bagian lain Pacu Jalur.
Pengetahuan.
Bagi Afrizal Alang, inilah salah satu persoalan paling mendesak di sekitar tradisi tersebut.
“Persoalannya adalah pewarisan.”
Banyak pengetahuan budaya tidak tercatat dalam dokumen resmi.
Pengetahuan itu hidup bersama manusia.
Ia bertahan dalam cerita, petatah-petitih, pantun, nasihat, ingatan, dan pertunjukan. Ia dibawa oleh pemuka adat, pengrajin, pelaku seni, dan orang tua yang bukan hanya mengetahui apa yang dilakukan, tetapi juga mengapa hal itu dilakukan.
Ketika pengetahuan tidak diwariskan, kehilangannya dapat berlangsung tanpa disadari.
Tidak selalu ada satu peristiwa besar ketika sebuah tradisi dinyatakan hilang.
Seseorang berhenti mempraktikkannya.
Orang lain yang menyimpan sebuah cerita meninggal dunia.
Generasi muda tumbuh dengan melihat perlombaan, tetapi tidak pernah mempelajari hal yang terjadi sebelum jalur mencapai sungai.
Dokumentasi penting, tetapi merekam tradisi tidak sama dengan menjaganya tetap hidup.
Video dapat merekam pertunjukan Randai. Namun, video tidak dapat melahirkan generasi pemain berikutnya.
Catatan tertulis dapat menggambarkan Rarak Godang. Namun, catatan itu tidak dapat menggantikan pengalaman mendengarnya dimainkan dalam kehidupan budaya masyarakat.
Foto dapat menyimpan gambar sebuah jalur. Namun, foto tidak dapat mengajarkan cara generasi terdahulu mengenali pohon yang dapat digunakan untuk membuatnya.
Pacu Jalur bertahan sebagai budaya hidup hanya ketika masyarakat terus mempraktikkan, menafsirkan kembali, dan mewariskan pengetahuan di sekitarnya.
Afrizal merangkum risikonya dalam satu kalimat yang langsung menyentuh inti pembicaraan.
“Tradisi dan menang tidak apa-apa. Yang susah itu tradisinya hilang, menangnya terus.”
Afrizal Alang
Perlombaan dapat terus ada sementara sebagian budaya di sekitarnya menghilang.
Karena itulah keberlanjutan budaya membutuhkan lebih dari acara tahunan.
Budaya, Pengunjung, dan Sungai
Pacu Jalur kini dilihat lebih banyak orang daripada sebelumnya.
Hal ini membuka peluang.
Pengunjung menggerakkan kegiatan ekonomi. Perhatian yang lebih luas dapat memperkuat pengakuan terhadap tradisi. Pariwisata dapat memberi alasan baru bagi masyarakat untuk menghargai kekhasan Kuantan Singingi.
Namun, diskusi juga mengingatkan perlunya kehati-hatian.
Bagi Sita, budaya tidak seharusnya diubah hanya untuk memenuhi dugaan tentang keinginan pengunjung.
“Kita mesti memperkuat budayanya. Pariwisata akan datang dengan sendirinya.”
Pengunjung datang karena Pacu Jalur khas dari tempat ini.
“Bukan kita yang menyesuaikan dengan kemauan pasar. Wisatawan datang karena ingin melihat kekhasan kita.”
Marc Thalmann melihat persoalan ini dari sisi pariwisata.
“Pariwisata hanya satu pilar dari sebuah ekosistem.”
Pengunjung mengalami lebih dari sekadar perlombaan.
Mereka menjumpai jalan, ruang publik, toilet, akomodasi, makanan, keramahan, dan kondisi tepian sungai. Mereka juga bertemu dengan desa, masyarakat, dan lanskap.
Bagi Marc, kekuatan budaya dimulai dari akar yang kuat.
“Kalau pohon tidak punya akar yang kuat, dia gampang tumbang.”
Perumpamaan itu sangat sesuai dengan Pacu Jalur.
Ketenaran dapat tumbuh dengan cepat.
Akar membutuhkan waktu beberapa generasi.
Salah satu peserta diskusi, kreator konten Gifari Antoni, datang ke Kuantan Singingi karena ingin memahami lebih dari gambar Pacu Jalur yang beredar di internet.
“Membuat sesuatu yang viral itu gampang. Membuat sesuatu yang melekat, diingat, dan punya isi, itu yang sulit.”
Namun, ketika mendokumentasikan festival, kameranya juga merekam kenyataan lain.
Sampah yang mengapung di sungai.
“Mereka berpacu, tetapi di tengah-tengahnya ada sampah yang hanyut.”
Gambaran tersebut sulit dipisahkan dari pertanyaan budaya yang lebih luas.
Sungai Kuantan bukan sekadar tempat acara.
Di sanalah Pacu Jalur hidup.
Merawat sungai bukan hanya soal membersihkan sampah setelah acara. Merawat sungai juga berarti menjaga tempat yang memberi makna pada tradisi tersebut.
Memikirkan Masa Depan Setelah Perlombaan Tahun Depan
Ketika diskusi berlangsung, jalur-jalur masih berpacu di Tepian Narosa.
Penonton masih bersorak dari tepian sungai.
Perayaan sedang terjadi pada saat itu juga.
Namun, di dalam studio, percakapan telah bergerak puluhan tahun ke depan.
Tidak ada rencana induk yang lahir pagi itu.
Namun, sejumlah pertanyaan muncul.
Bagaimana pengetahuan adat dapat diwariskan ketika orang-orang yang menyimpannya masih ada?
Bagaimana generasi muda dapat mengalami Pacu Jalur sebagai sesuatu yang lebih luas daripada perlombaan?
Bagaimana Rarak Godang, Randai, dan ekspresi budaya lain tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat?
Bagaimana masyarakat dapat terus memperoleh manfaat dari perayaan yang semakin besar dan komersial?
Bagaimana Sungai Kuantan diperlakukan dengan martabat sebagai tempat yang membawa salah satu tradisi Riau yang paling dikenal?
Jika kayu tetap penting bagi jalur, siapa yang sedang menyiapkan pohon untuk generasi berikutnya?
“Jangan hanya menyiapkan jalur untuk pacu tahun depan. Mulailah menyiapkan pohon untuk Pacu Jalur generasi berikutnya.”
Melki Rumania
Gagasan ini melampaui kehutanan.
Ia merupakan cara memikirkan warisan.
Sebagian hal perlu dipersiapkan jauh sebelum orang yang akan menggunakannya siap.
Seorang anak dapat mewarisi cerita dari orang tua.
Seniman muda dapat mewarisi lagu.
Sebuah desa dapat mewarisi jalur.
Satu generasi dapat menanam atau melindungi pohon dengan mengetahui bahwa pohon itu akan menjadi milik generasi lain.
Sebuah jalur berpacu selama beberapa menit.
Sebuah pohon tumbuh selama puluhan tahun.
Sebuah tradisi dibawa melintasi generasi.
“Kan dibao kamano Pacu Jalur ko?”
Ke mana Pacu Jalur akan kita bawa?
Mungkin jawabannya tidak hanya bergantung pada hal yang akan terjadi di Tepian Narosa tahun depan.
Jawabannya juga bergantung pada hal yang dipilih masyarakat untuk tetap hidup di desa, pengetahuan yang terus mereka wariskan, cara mereka merawat sungai, dan hal yang mereka biarkan terus tumbuh di hutan jauh sebelum jalur berikutnya mencapai air.
