Aerial view of Lubuk Bigau Village and its surrounding forest and agricultural landscape in Riau

Pemantauan Keanekaragaman Hayati dan Koeksistensi dengan Satwa Liar, Penghidupan yang Selaras dengan Hutan dan Usaha Masyarakat

Pengembangan Terpadu Desa Lubuk Bigau

Program desa terpadu yang memadukan pemantauan lingkungan, pendidikan, usaha lokal, penataan ruang, dan infrastruktur kunjungan di Lubuk Bigau.

  • Desa Lubuk Bigau, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau
  • Mei sampai Desember 2024
  • Selesai

Gambaran Umum Proyek

Yayasan Hutanriau melaksanakan program pengembangan terpadu di Desa Lubuk Bigau melalui tiga bidang yang saling berkaitan: lingkungan, pendidikan, dan pengembangan ekonomi lokal.

Program ini mendukung perencanaan ruang partisipatif, pemantauan satwa liar, jalur trekking, sarana ekowisata, komputer sekolah, pelatihan pemandu wisata, mesin pengolahan gambir, serta promosi potensi alam dan budaya desa.

Rangkaian kegiatan tersebut menghubungkan perencanaan desa, penguatan keterampilan masyarakat, pendidikan, mata pencaharian, dan pengelolaan lanskap hutan sebagai dasar bagi keberlanjutan desa.

Ringkasan proyek

Sekilas

4 kamera jebak

digunakan untuk pemantauan satwa liar berbasis masyarakat

7 komputer

disediakan untuk sarana pendidikan desa

11 pemandu lokal

menyelesaikan pelatihan pemanduan praktis

1 mesin pengolahan gambir

dipasang untuk mendukung pengembangan produk

Konteks Proyek

Lubuk Bigau merupakan desa terpencil di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, yang dikelilingi hutan tropis, sungai, air terjun, dan lahan produksi masyarakat. Desa ini berada di lanskap penyangga Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling serta memiliki potensi alam, budaya, dan mata pencaharian yang penting.

Lubuk Bigau dikenal memiliki lebih dari dua puluh air terjun, meskipun baru sebagian kecil yang dikenal luas oleh pengunjung. Beberapa di antaranya adalah Batang Kapas, Jonjang, Mudiak Topuak, Lubuk Godang, dan Lubuk Ngalau. Laporan proyek menyebut Batang Kapas sebagai salah satu air terjun tertinggi di Riau, dengan perkiraan ketinggian 165 meter.

Di balik potensi tersebut, masyarakat menghadapi akses yang sulit, keterbatasan infrastruktur publik dan sarana pendidikan, kemampuan pengelolaan wisata yang masih terbatas, minimnya teknologi pengolahan produk lokal, serta tekanan ekonomi rumah tangga.

Program menjawab berbagai kebutuhan tersebut melalui pendekatan pengembangan desa terpadu yang mencakup bidang lingkungan, pendidikan, dan ekonomi. Wisata berbasis masyarakat menjadi salah satu bagian program, dilengkapi perencanaan ruang partisipatif, pemantauan satwa liar, dukungan pendidikan, pengembangan keterampilan lokal, dan sarana pengolahan gambir.

Dengan menghubungkan berbagai komponen tersebut, program berupaya membangun dasar praktis bagi keberlanjutan desa sekaligus memperluas partisipasi masyarakat, memperkuat kelembagaan lokal, dan mendukung pengelolaan lanskap di sekitarnya.

Tujuan

  • Mendukung pengembangan Desa Lubuk Bigau melalui pendekatan terpadu.
  • Mendorong perlindungan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab di kawasan penyangga Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling.
  • Menyusun rencana pemanfaatan ruang secara partisipatif untuk mendukung pembangunan desa, mata pencaharian masyarakat, dan perlindungan lingkungan.
  • Meningkatkan keterampilan masyarakat dalam pemanduan wisata, pemantauan satwa liar, pengelolaan program, dan usaha lokal.
  • Memperluas akses anak-anak dan kaum muda terhadap teknologi dan sarana pendidikan.
  • Meningkatkan kemampuan pengolahan gambir di tingkat desa agar lebih banyak nilai tambah dapat dipertahankan di Lubuk Bigau.
  • Mengembangkan sarana dan sistem dasar untuk mendukung wisata berbasis masyarakat.
  • Mendukung pelaksanaan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PLN.

Yang Dilakukan Hutanriau

  • Memfasilitasi sosialisasi program dan diskusi teknis dengan pemerintah desa, pemangku adat, perempuan, pemuda, dan perwakilan masyarakat.
  • Menyusun rencana pemanfaatan ruang Desa Lubuk Bigau secara partisipatif.
  • Memfasilitasi proses penyusunan rencana strategis desa secara partisipatif.
  • Melakukan survei dan menyiapkan jalur trekking menuju Air Terjun Mudiak Topuak dan Jonjang.
  • Mendukung pembukaan jalur trekking menuju Lubuk Godang dan Lubuk Ngalau atas inisiatif masyarakat.
  • Mengumpulkan informasi awal mengenai jalur pergerakan satwa dan jenis-jenis penting.
  • Melatih tim lokal untuk memasang dan merawat kamera jebak, melakukan pemantauan, serta mencatat data.
  • Memasang dan memantau kamera jebak di kawasan hutan sekitar lokasi ekowisata.
  • Membangun pondok singgah ekowisata dan fasilitas toilet pengunjung yang terpisah.
  • Memasang papan informasi wisata, petunjuk arah, peringatan, dan penanda lokasi.
  • Menyediakan tujuh komputer untuk UPT SDN 029 Lubuk Bigau.
  • Melatih anggota Pokdarwis sebagai pemandu wisata lokal.
  • Menilai praktik pengolahan gambir dan menyediakan satu mesin pengolahan gambir.
  • Menyelenggarakan peluncuran ekowisata dan kunjungan media.
  • Memfasilitasi masukan peserta, rekomendasi tindak lanjut, pemantauan, administrasi, dan pelaporan.

Hasil dan Pembelajaran

Dengan memandang lingkungan, pendidikan, dan penghidupan sebagai bagian yang saling terhubung, program ini memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar intervensi pariwisata.

Masyarakat dan pemerintah desa mengembangkan dua jalur trekking tambahan melalui kerja bersama secara swadaya, yang menunjukkan adanya kepemilikan lokal terhadap kegiatan.

Pelatihan kamera jebak dan enam kali pemantauan mendukung dokumentasi satwa liar oleh masyarakat di sekitar hutan desa dan kawasan wisata. Catatan tersebut menunjukkan jenis satwa yang teramati selama periode pemantauan, bukan perubahan populasinya.

Komputer, pelatihan pemandu, mesin pengolahan gambir, shelter, toilet, jalur, dan papan petunjuk membentuk dasar praktis bagi pendidikan, usaha, dan pengelolaan pengunjung. Manfaat jangka panjangnya bergantung pada pemanfaatan, pemeliharaan, pengembangan pasar, dan pengelolaan di tingkat desa; peningkatan pendapatan dan pertumbuhan kunjungan secara berkelanjutan belum diukur pada saat pelaporan.

Sumber Terkait

Dokumentasi Lapangan

Foto pilihan yang mendokumentasikan kegiatan proyek, pelaksanaan lapangan, dan partisipasi masyarakat.

Merencanakan kerja lingkungan yang berakar pada konteks lokal di Riau?

Hutanriau bekerja sama dengan masyarakat, donor, lembaga pemerintah, institusi penelitian, organisasi masyarakat sipil, dan mitra sektor swasta yang bertanggung jawab.

Diskusikan Kemitraan