areal penanaman dan pemeliharaan
Restorasi Ekosistem dan Adaptasi Iklim
Penanaman dan Pemeliharaan Pohon di Tahura Sultan Syarif Hasyim
Program dua tahap yang menggabungkan penanaman pohon, monitoring, pemeliharaan, dan penyulaman pada areal seluas tiga hektare di Tahura Sultan Syarif Hasyim.
Gambaran proyek
Gambaran Umum Proyek
Hutanriau melaksanakan program penanaman dan pemeliharaan pohon di Tahura Sultan Syarif Hasyim melalui Program InJourney Airports Alam Lestari, dengan dukungan PT Angkasa Pura Indonesia dan koordinasi bersama UPT KPHP Minas Tahura.
Kegiatan menghubungkan penanaman dengan monitoring, pemeliharaan, dan penyulaman. Pendekatan ini menempatkan penanaman sebagai awal dari proses pengelolaan tanaman muda, terutama pada lokasi yang menghadapi kondisi kering, pertumbuhan vegetasi bawah yang cepat, akses lapangan yang terbatas, dan pergerakan satwa liar.
Ringkasan proyek
Sekilas
bibit ditanam secara kumulatif selama program
Mencakup penanaman utama serta penyisipan atau penyulaman yang dilakukan secara bertahap.
tingkat hidup pada sensus akhir proyek
Sensus akhir proyek mencatat tingkat hidup sebesar 80%.
Keluaran Terdokumentasi
- Penanaman utama selesai dilaksanakan pada areal proyek seluas tiga hektare.
- Sensus awal tanaman selesai dilakukan pada dua blok operasional.
- Pemeliharaan dan penyulaman selesai dilakukan di dalam areal kegiatan.
- Catatan lapangan, foto, pemetaan, dan dokumentasi pelaksanaan tersedia.
Mengapa pekerjaan ini penting
Konteks Proyek
Tahura Sultan Syarif Hasyim merupakan kawasan konservasi di Riau yang dikelola oleh UPT KPHP Minas Tahura. Areal kegiatan memiliki kombinasi vegetasi yang telah tumbuh, bagian yang lebih terbuka atau terdegradasi, vegetasi bawah yang cepat berkembang, serta akses lapangan yang terbatas. Lokasi juga berada dalam lanskap yang digunakan oleh Gajah Sumatra sehingga pergerakan satwa menjadi salah satu pertimbangan dalam keselamatan dan pengaturan kegiatan lapangan.
Kegiatan merupakan bagian dari Program InJourney Airports Alam Lestari yang didukung oleh PT Angkasa Pura Indonesia. Meranti balangeran sebagai jenis pohon hutan rawa dan tampui sebagai tanaman buah lokal digunakan dalam program penanaman.
Program tidak memperlakukan penanaman pohon sebagai kegiatan satu kali. Penanaman dihubungkan dengan monitoring dan pemeliharaan lanjutan sehingga kondisi yang ditemukan di lapangan dapat digunakan untuk menentukan penanganan terhadap kematian tanaman, persaingan vegetasi, dan perubahan kondisi tapak selama periode pelaksanaan.
Yang ingin kami capai
Tujuan
- Mendukung pemulihan vegetasi pada areal seluas tiga hektare di Tahura Sultan Syarif Hasyim melalui penanaman dan pemeliharaan pohon.
- Menanam bibit meranti balangeran dan tampui serta mempertahankan akses menuju titik tanam untuk monitoring lanjutan.
- Menggunakan hasil monitoring, pemeliharaan, dan penyulaman untuk merespons kematian awal tanaman serta perubahan kondisi lapangan.
- Membangun pembelajaran praktis dan kolaborasi dalam pelaksanaan restorasi di kawasan konservasi.
Pelaksanaan
Yang Dilakukan Hutanriau
- Mengoordinasikan perencanaan teknis, persiapan lokasi, dan pelaksanaan lapangan bersama UPT KPHP Minas Tahura dan PT Angkasa Pura Indonesia.
- Mengadakan dan mengelola bibit, menyiapkan jalur serta titik tanam, dan mengorganisasi distribusi dan penanaman di lapangan.
- Melaksanakan sensus awal tanaman pada dua blok operasional dan menggunakan hasilnya untuk mengarahkan pekerjaan lanjutan.
- Membuka kembali jalur tanam, mengendalikan vegetasi bawah yang mengganggu, memeriksa titik tanaman, dan melakukan penyulaman pada lokasi yang membutuhkan.
- Mendokumentasikan kondisi lapangan sepanjang pelaksanaan dan menyesuaikan jadwal kerja terhadap keterbatasan akses serta aktivitas Gajah Sumatra.
Perubahan dan pembelajaran
Hasil dan Pembelajaran
Monitoring menjadi dasar tindak lanjut di lapangan
Sensus pertama memberikan gambaran terstruktur mengenai kondisi tanaman setelah fase penanaman utama. Hasilnya digunakan untuk mengarahkan pemeriksaan lanjutan, pemeliharaan, dan penyulaman sehingga monitoring tidak berhenti sebagai kegiatan pelaporan.
Jalur tanam perlu tetap dapat ditelusuri
Pertumbuhan vegetasi bawah yang cepat menutup sebagian jalur selama fase awal pertumbuhan tanaman. Pembukaan kembali jalur memungkinkan tim menemukan tanaman, memeriksa kondisinya, dan melakukan pemeliharaan secara terarah di sekitar titik tanam.
Pekerjaan restorasi perlu menyesuaikan pergerakan satwa liar
Areal kegiatan berada dalam lanskap yang digunakan oleh Gajah Sumatra. Aktivitas gajah menyebabkan kerusakan pada pondok lapangan sementara dan papan kegiatan serta memengaruhi keputusan mengenai waktu yang aman bagi tenaga kerja untuk memasuki areal. Hutanriau menyesuaikan jadwal kerja melalui koordinasi dengan pengelola kawasan tanpa menghalangi pergerakan satwa.
Penanaman merupakan awal dari rangkaian pekerjaan
Program ini memperkuat pembelajaran praktis bahwa penanaman, monitoring, pemeliharaan, dan penyulaman perlu diperlakukan sebagai satu rangkaian. Pekerjaan lapangan berlanjut setelah fase penanaman awal dan ditutup dengan kegiatan pemeliharaan serta penyulaman pada awal Juni 2026.
Album proyek
Dokumentasi Lapangan
Foto pilihan yang mendokumentasikan kegiatan proyek, pelaksanaan lapangan, dan partisipasi masyarakat.
Bekerja bersama kami
Merencanakan kerja lingkungan yang berakar pada konteks lokal di Riau?
Hutanriau bekerja sama dengan masyarakat, donor, lembaga pemerintah, institusi penelitian, organisasi masyarakat sipil, dan mitra sektor swasta yang bertanggung jawab.
