wilayah kelola masyarakat dipetakan
Hak atas Lahan, Pemetaan, dan Tata Kelola Lokal, Penghidupan yang Selaras dengan Hutan dan Usaha Masyarakat
Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat dan Penghidupan Berbasis Jernang di Bukit Batabuh
Pemetaan partisipatif, pendampingan pengelolaan hutan, dan pengembangan penghidupan berbasis jernang bersama kelompok masyarakat di Bukit Batabuh, Singingi.
Gambaran proyek
Gambaran Umum Proyek
Pada Oktober 2017 hingga Maret 2018, Hutanriau bekerja bersama KTH Bukik Ijau, KTH Sungai Manggis Sejahtera, dan KPH Singingi untuk memperkuat pengelolaan hutan oleh masyarakat di Desa Air Buluh. Proyek ini melanjutkan prakarsa yang telah tumbuh di Bukik Ijau, termasuk budidaya jernang, keberadaan rutin di kawasan hutan, dan pengorganisasian masyarakat.
Intervensi menggabungkan pemetaan partisipatif, penguatan kelembagaan masyarakat, pengelolaan hasil hutan bukan kayu, persiapan perhutanan sosial, dan pembelajaran praktis di lapangan. Sekitar 550 ha wilayah kelola Bukik Ijau dipetakan, sementara sekitar 350 ha yang terkait dengan Sungai Manggis Sejahtera dipetakan secara indikatif. Jernang menjadi penghubung praktis antara upaya mempertahankan vegetasi hutan dan pengembangan peluang penghidupan yang bertumpu pada pengetahuan serta praktik lokal.
Ringkasan proyek
Sekilas
areal indikatif hutan masyarakat teridentifikasi
areal budidaya jernang yang didukung
berpartisipasi dalam kegiatan pemetaan dan usaha hasil hutan
Mengapa pekerjaan ini penting
Konteks Proyek
Air Buluh merupakan desa di tepi hutan di Kuantan Singingi. Masyarakat telah lama memanfaatkan jernang dan hasil hutan bukan kayu lainnya sebagai bagian dari hubungan mereka dengan lanskap Bukit Batabuh. Sumber daya hutan berkaitan erat dengan penghidupan setempat, sementara aliran air dari kawasan hutan menunjang kebutuhan sehari-hari desa.
Sebelum proyek yang didukung RRI dimulai, masyarakat telah membentuk KTH Bukik Ijau, mengembangkan budidaya jernang, melakukan patroli hutan, menyiapkan bibit, dan mencari cara mempertahankan hutan sekaligus memperoleh nilai penghidupan. Karena itu, proyek ini memperkuat prakarsa yang sudah berjalan, bukan memperkenalkan model dari luar.
Hutanriau bekerja dari landasan lokal tersebut dengan menggabungkan pengorganisasian masyarakat, informasi spasial, pengelolaan hasil hutan bukan kayu, persiapan perhutanan sosial, serta kerja sama dengan KPH Singingi. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam membentuk pilihan pengelolaan hutan dan usaha yang sesuai dengan kondisi setempat.
Yang ingin kami capai
Tujuan
Memperkuat pengelolaan kawasan hutan oleh masyarakat di Bukit Batabuh sebagai tanggapan terhadap tekanan ekspansi kelapa sawit dan ancaman hutan lainnya, sekaligus mengembangkan peluang penghidupan yang berakar pada kondisi lokal.
- Menyusun informasi spasial untuk wilayah kelola Bukik Ijau dan Sungai Manggis Sejahtera.
- Memperkuat kelembagaan masyarakat dan keterlibatan dengan instansi pengelola hutan terkait.
- Mendukung pengelolaan jernang yang berkelanjutan dan mengidentifikasi peluang hasil hutan bukan kayu lainnya.
- Menyiapkan dan mengajukan dokumen masyarakat untuk proses perhutanan sosial.
- Mendorong pembelajaran dan pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan hutan oleh masyarakat, pemanenan jernang, dan usaha berbasis hasil hutan.
Pelaksanaan
Yang Dilakukan Hutanriau
- Memfasilitasi pemetaan partisipatif wilayah kelola Bukik Ijau dan pemetaan indikatif wilayah kelola Sungai Manggis Sejahtera.
- Mendukung diskusi kelompok, konsolidasi masyarakat, dan kegiatan praktis di kawasan hutan yang berkaitan dengan perhutanan sosial dan usaha kehutanan masyarakat.
- Mendampingi Bukik Ijau dalam budidaya dan pemanenan jernang, patroli rutin, serta pengelolaan lapangan di wilayah kelolanya.
- Mendukung pembentukan dan pengorganisasian KTH Sungai Manggis Sejahtera sebagai wadah tambahan bagi pengelolaan hutan dan pengembangan hasil hutan bukan kayu.
- Memfasilitasi persiapan dan pengajuan dokumen perhutanan sosial serta komunikasi dengan instansi terkait.
- Melakukan identifikasi partisipatif terhadap hasil hutan bukan kayu lainnya dan menjajaki minat masyarakat pada pilihan penghidupan berbasis hutan.
- Memfasilitasi Jelajah Jejak Darah Naga pada 15 hingga 17 Maret 2018 yang memadukan perjalanan ke wilayah kelola, diskusi lapangan, pemanenan jernang, dialog perhutanan sosial, dan pertukaran pembelajaran.
Perubahan dan pembelajaran
Hasil dan Pembelajaran
Proyek ini menghubungkan informasi spasial, pengorganisasian masyarakat, dan praktik pengelolaan hutan. Pemetaan membantu Bukik Ijau dan Sungai Manggis Sejahtera menjelaskan wilayah kelola mereka, sementara pelibatan KPH Singingi menghubungkan prakarsa lokal dengan instansi yang bertanggung jawab mengelola kawasan hutan.
Jernang menjadi penghubung praktis antara vegetasi hutan dan pilihan penghidupan. Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pengembangan usaha berbasis jernang bergantung pada informasi pasar yang andal, pengaturan keamanan, dan keberadaan rutin di kawasan hutan.
Masyarakat berkontribusi melalui waktu, tenaga, dan sumber daya lokal untuk pemetaan, pertemuan, pembibitan, dan kegiatan lapangan. Akses yang sulit ketika permukaan sungai tinggi dan pencurian buah jernang tetap menjadi tantangan praktis dalam pengelolaan.
Album proyek
Dokumentasi Lapangan
Foto pilihan yang mendokumentasikan kegiatan proyek, pelaksanaan lapangan, dan partisipasi masyarakat.
Bekerja bersama kami
Merencanakan kerja lingkungan yang berakar pada konteks lokal di Riau?
Hutanriau bekerja sama dengan masyarakat, donor, lembaga pemerintah, institusi penelitian, organisasi masyarakat sipil, dan mitra sektor swasta yang bertanggung jawab.
