Buah Tampui Nasi dan Tampui Kunyik yang dibelah memperlihatkan daging berwarna putih dan kuning.

Ketika Buah Hutan yang Terlupakan Tiba di Kota

Sekitar pukul dua dini hari pada 18 Februari 2020, anggota Kelompok Tani Hutan Sungai Manggis Sejahtera tiba di kantor Hutanriau di Pekanbaru.

Mereka datang dari Kuantan Singingi dengan membawa hasil panen yang tidak biasa: sekitar 600 kilogram tampui, 100 kilogram barangan, dan 25 buah durian daun.

“Tolong bantu kami menjual hasil hutan ini,” kata Sunardi, ketua kelompok.

Permintaan itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada tantangan yang jauh lebih besar bagi masyarakat hutan di berbagai wilayah Riau. Hutan mereka masih menghasilkan pangan yang bernilai, tetapi banyak produk tersebut tidak dikenal konsumen perkotaan dan jarang mencapai pasar yang mapan.

Pagi harinya, lima anggota kelompok tani bersama staf Hutanriau menuju Jalan Arifin Ahmad, salah satu koridor perkotaan yang ramai di Pekanbaru. Sebuah lapak sederhana di tepi jalan menjadi titik temu antara petani hutan, warga kota, dan warisan pangan Riau yang semakin jarang dikenal.

Buah tampui dan barangan dipajang di lapak tepi jalan di Pekanbaru.
Buah hutan asli dari Kuantan Singingi diperkenalkan kepada warga Pekanbaru pada 18 Februari 2020. Foto: Hutanriau.

Membawa pangan hutan ke kota

Banyak orang berhenti karena belum pernah melihat buah-buahan itu. Sebagian penasaran dengan namanya yang asing, kulit luar yang kasar, dan bentuknya yang tidak biasa. Sebagian lain mengenalinya dari masa kecil.

Seorang pengunjung ingat pernah memakannya bertahun-tahun lalu, tetapi kini buah tersebut semakin sulit ditemukan. Seorang perempuan asal Sumatera Barat mengenali tampui sebagai kapunduang, nama yang digunakan di daerah asalnya.

Namun, banyak pengunjung muda baru melihat buah itu untuk pertama kalinya.

Pertemuan-pertemuan ini memperlihatkan betapa cepat pengetahuan dapat menghilang. Buah yang akrab bagi satu generasi bisa menjadi asing bagi generasi berikutnya ketika hutan dialihfungsikan, pohon asli tidak lagi dibudidayakan, dan pangan lokal menghilang dari pasar.

Penjualan di tepi jalan itu menjadi lebih dari kegiatan niaga. Ia menjadi perkenalan informal dengan keanekaragaman hayati dan budaya yang tersimpan di dalam hutan Riau.

Tampui: berbeda warna, satu warisan hutan

Tampui, yang dikenal secara ilmiah sebagai Baccaurea macrocarpa, merupakan buah hutan tropis yang ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaya, dan beberapa wilayah daratan Asia Tenggara.

Buah ini memiliki kulit tebal dan daging beruas. Rasanya dapat agak asam hingga manis, tergantung tingkat kematangannya.

Masyarakat Kuantan Singingi mengenal sedikitnya dua varietas lokal. Tampui Nasi memiliki daging putih, sedangkan Tampui Kunyik berdaging kuning atau jingga menyerupai warna kunyit.

Buah Tampui Nasi dan Tampui Kunyik yang dibelah memperlihatkan daging berwarna putih dan kuning.
Tampui Nasi berdaging putih dan Tampui Kunyik berdaging kuning-jingga, dua varietas yang dikenal masyarakat di Kuantan Singingi. Foto: Hutanriau.

Nama-nama lokal tersebut mencerminkan pengetahuan rinci yang berkembang dari generasi ke generasi melalui pengamatan, pemanenan, dan konsumsi buah hutan.

Saat para petani datang ke Pekanbaru, sebagian besar tampui masih dipanen dari pohon yang tumbuh alami di hutan.

“Kami masih memanennya dari rimbo,” kata Rusli, petani muda dari Desa Air Buluh.

Kata rimbo berarti hutan, tetapi dalam pemahaman setempat maknanya lebih luas daripada sekumpulan pohon. Rimbo adalah lanskap hidup yang menyediakan pangan, obat-obatan, bahan, satwa liar, ingatan, dan pengetahuan masyarakat.

Anggota kelompok tani mulai mencoba membudidayakan tampui. Inisiatif ini penting karena konservasi jangka panjang tidak dapat sepenuhnya bergantung pada pemanenan dari pohon alami yang masih tersisa.

Perbanyakan, budidaya, dan perlindungan pohon induk diperlukan agar generasi mendatang tetap dapat mengenali dan memperoleh manfaat dari buah asli ini.

Barangan: pangan hutan yang jarang diperhatikan

Barangan merupakan hasil hutan asli yang dikenal dengan berbagai nama di Indonesia. Pohonnya secara lokal dikaitkan dengan Castanopsis argentea, anggota keluarga botani yang sama dengan kastanya.

Di Jawa, jenis ini banyak dikenal sebagai saninten. Di Kuantan Singingi, masyarakat mengenal dua bentuk lokal barangan.

Barangan Ghunjo memiliki kulit luar berduri, sedangkan Barangan Ghumpal berkulit kasar tanpa duri. Meski tampilannya berbeda, masyarakat menyebut biji keduanya memiliki rasa yang serupa.

Buah Barangan Ghumpal segar dengan biji cokelat mengilap terlihat di dalam kulit luarnya.
Barangan Ghumpal dikenali dari kulit luarnya yang kasar tanpa duri dan bijinya yang cokelat mengilap. Foto: Hutanriau.

Setelah disangrai, barangan mengeluarkan aroma khas dengan rasa di antara kacang dan umbi berpati.

“Rasanya seperti perpaduan umbi dan kacang. Ketika disangrai, aromanya sangat khas,” jelas Mat Gazali, anggota kelompok tani hutan.

Potensinya mungkin melampaui konsumsi langsung. Dengan penelitian, penilaian keamanan pangan, metode pengolahan, dan pengembangan pasar yang dipimpin masyarakat, barangan dapat diolah menjadi tepung atau produk pangan lain.

Namun, pengembangan komersial perlu berlandaskan pemanenan berkelanjutan, budidaya, kepemilikan masyarakat, dan pembagian manfaat yang adil.

Pangan hutan yang dikenal secara nasional

Pada 2019, saninten, nama yang umum digunakan untuk Castanopsis argentea di Jawa, ditampilkan dalam kampanye Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kemunculannya dalam kampanye tersebut menyoroti pentingnya jenis tumbuhan asli bagi ekologi. Namun, bagi masyarakat Kuantan Singingi, barangan bukan hanya simbol konservasi. Ia juga merupakan pangan, sumber pengetahuan, dan kemungkinan penghidupan masyarakat.

Poster Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2019 yang menampilkan saninten atau Castanopsis argentea.
Saninten, yang dikenal di Kuantan Singingi sebagai barangan, ditampilkan dalam kampanye Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2019. Gambar: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

Apa yang hilang ketika buah hutan menghilang?

Menurunnya keberadaan buah hutan asli bukan hanya persoalan botani.

Ketika suatu jenis semakin sulit ditemukan, masyarakat dapat perlahan kehilangan pengetahuan tentang lokasi tumbuhnya, musim berbunga dan berbuah, cara memanen, varietas yang disukai, serta cara memilih dan memperbanyak benih.

Pengetahuan tentang cara mengolah dan membagikan buah, serta hubungan pohonnya dengan ekosistem hutan yang lebih luas, juga dapat menghilang.

Pengetahuan ini jarang tercatat dalam panduan resmi. Ia hidup melalui praktik, ingatan, bahasa, pengalaman keluarga, dan hubungan manusia dengan lanskapnya.

Hilangnya satu buah hutan dapat berarti hilangnya keanekaragaman hayati, ragam pangan, ingatan budaya, dan peluang penghidupan pada saat yang sama.

Konservasi perlu memberi nilai bagi masyarakat

Konservasi berbasis masyarakat lebih mungkin bertahan ketika masyarakat setempat memperoleh manfaat yang adil dan berarti dari upaya menjaga sumber daya hutan.

Tampui dan barangan memperlihatkan potensi hasil hutan bukan kayu. Berbeda dari kegiatan ekonomi yang bergantung pada pembukaan hutan, produk ini dapat menghasilkan nilai sembari mempertahankan pohon dan fungsi ekologis.

Namun, pengembangan pasar perlu dilakukan dengan hati-hati. Permintaan komersial yang meningkat secara tiba-tiba dapat memicu panen berlebihan, terutama ketika produk masih terutama berasal dari hutan alami.

Pendekatan yang bertanggung jawab membutuhkan budidaya yang dipimpin masyarakat, aturan panen berkelanjutan, perlindungan pohon induk, penanganan pascapanen yang lebih baik, pengolahan yang tepat, akses pasar yang adil, serta pengakuan terhadap pengetahuan lokal.

Hutanriau bekerja untuk menghubungkan unsur-unsur tersebut. Tujuannya bukan sekadar memperkenalkan produk yang tidak biasa kepada konsumen perkotaan, melainkan memperkuat model yang menjaga hutan tetap berdiri karena masyarakat memiliki hak, pengetahuan, kemampuan, dan insentif untuk mengelolanya secara berkelanjutan.

Pesan besar dari lapak kecil di tepi jalan

Permintaan bantuan pada dini hari itu berkembang menjadi pertemuan publik yang kecil, tetapi bermakna.

Di tepi jalan Pekanbaru, warga kota mencicipi buah yang belum pernah mereka lihat. Pengunjung yang lebih tua mengingat pangan dari masa kecil. Petani membagikan pengetahuan dari hutan mereka. Jenis asli untuk sesaat hadir di pasar pangan perkotaan yang didominasi komoditas yang lebih umum.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu bermula dari kampanye besar.

Kadang, semuanya dimulai dari seorang petani yang membawa hasil panen dari hutan, orang yang lewat lalu berhenti untuk bertanya, atau seorang anak muda yang mencicipi buah asing untuk pertama kalinya.

Menjaga tampui dan barangan tetap hidup membutuhkan lebih dari sekadar mengingat namanya. Habitatnya perlu dilindungi, pohonnya dibudidayakan, pengetahuan masyarakat didokumentasikan, pasar yang bertanggung jawab dikembangkan, dan orang-orang yang menjaga sumber daya ini perlu menerima bagian manfaat yang adil.

Dengan melindungi pangan hutan asli, kita mempertahankan lebih dari satu jenis tumbuhan. Kita menjaga hubungan antara hutan, budaya, pangan, pengetahuan, dan penghidupan masyarakat.

Konservasi berbasis masyarakat

Hutan yang sehat juga perlu menopang masyarakat yang menjaganya

Hutanriau bekerja bersama masyarakat hutan untuk melindungi keanekaragaman hayati, memperkuat pengetahuan lokal, dan mengembangkan penghidupan berkelanjutan yang berakar pada lanskap yang sehat.

Lihat Kerja Kami

Kisah ini diadaptasi dari catatan lapangan Hutanriau tentang kunjungan petani hutan dari Kuantan Singingi ke Pekanbaru pada 18 Februari 2020.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan