Seorang laki-laki memanen tandan buah jernang dari tumbuhan rotan di dalam hutan.
|

Menyusuri Jejak Darah Naga

Perjalanan lapangan ke Bukit Batabuh, tempat pengelolaan hutan berbasis masyarakat dan penghidupan dari jernang bertemu.

Ketika rute mencapai Sungai Putat, irama perjalanan berubah. Jalan berganti menjadi air, bebatuan, dan vegetasi lebat Bukit Batabuh. Pada Maret 2018, peserta perjalanan lapangan yang dikenal sebagai Jejak Si Darah Naga menyusuri rute ini menuju wilayah kelola Bukik Ijau. Sebagian datang dari Air Buluh dan masyarakat sekitar, sementara peserta lain berasal dari lembaga pengelola hutan, organisasi masyarakat sipil, dan wilayah tetangga.

Seorang laki-laki memegang tandan buah jernang di depan vegetasi hutan.
Anggota KTH Bukik Ijau menunjukkan buah jernang hasil panen dari wilayah kelola masyarakat di Bukit Batabuh.

Tujuan perjalanan bukan sekadar lokasi panen. Di tempat itu, masyarakat merawat jernang, membahas pengelolaan hutan, dan menguji kemungkinan penghidupan berbasis hutan untuk menopang kehadiran mereka di lanskap tersebut. Kegiatan yang berlangsung pada 15 hingga 17 Maret 2018 ini mempertemukan sekitar 60 peserta dalam pembelajaran praktis yang berangkat dari kondisi hutan.

Hutan dan Jernang

Desa Air Buluh berada di tepi lanskap hutan Bukit Batabuh, Kuantan Singingi, Riau. Selama beberapa generasi, hutan telah menjadi bagian dari penghidupan, pengetahuan, dan keseharian masyarakat. Salah satu hasil hutan bukan kayu yang terkait dengan hubungan ini adalah jernang, rotan merambat yang secara internasional dikenal sebagai Dragon’s Blood. Buahnya menghasilkan resin merah yang digunakan untuk berbagai produk dan diperdagangkan hingga ke luar desa.

Jernang penting bukan hanya karena nilainya sebagai hasil hutan. Tumbuhan ini tumbuh bersama dan bergantung pada vegetasi hutan yang masih berdiri. Sulurnya menggunakan pohon serta tumbuhan di sekitarnya sebagai penopang. Di Bukit Batabuh, pengelolaan jernang tidak dapat dipisahkan dari kondisi hutan. Panen jernang membuka percakapan yang lebih luas tentang budidaya, akses, tanggung jawab kelompok, keamanan, dan pekerjaan praktis yang dibutuhkan untuk terus hadir di dalam hutan.

Batang pohon tinggi tumbuh di tengah tegakan hutan dengan vegetasi rapat di sekitarnya.
Tegakan hutan di lanskap Bukit Batabuh menjadi bagian dari konteks pengelolaan hutan masyarakat di Air Buluh.

Jauh sebelum inisiatif yang didukung RRI dimulai pada Oktober 2017, masyarakat Air Buluh telah memanfaatkan pengetahuan hutan dan mengembangkan praktik pengelolaan jernang. Peran Hutanriau adalah bekerja dari upaya yang sudah ada, membantu masyarakat menghubungkan praktik lokal dengan pemetaan, pengorganisasian kelompok, pengelolaan hasil hutan bukan kayu, dan komunikasi dengan lembaga yang bertanggung jawab atas pengelolaan hutan.

Menyusuri Jejak

Perjalanan menuju pondok lapangan Bukik Ijau memperlihatkan kenyataan dari pekerjaan ini. Peserta terlebih dahulu berkendara dengan sepeda motor, kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri sungai. Dalam kondisi normal, perjalanan kaki memakan waktu lebih dari dua jam. Tinggi muka air dapat memperlambat dan mempersulit perjalanan, terutama pada musim hujan. Mencapai wilayah kelola membutuhkan waktu, perlengkapan, dan pengetahuan tentang medan.

Tantangan akses itu turut membentuk diskusi. Jarak memengaruhi seberapa sering kelompok dapat mengunjungi lokasi, membawa perbekalan, mengamati kondisi jernang, dan merespons risiko. Jarak juga memengaruhi patroli. Bukik Ijau menjaga kehadiran rutin di hutan, dengan patroli dilaporkan berlangsung sekitar tiga hingga empat hari setiap pekan, tetapi akses yang sulit dapat membatasi jangkauan. Perjalanan ini memperjelas bahwa pengelolaan bukan gagasan abstrak. Ada upaya fisik yang berulang untuk terus kembali ke hutan.

Dua orang berjalan di jalan tanah melalui kawasan hutan dengan batang pohon tumbang di sisi jalur.
Patroli masyarakat menelusuri akses hutan untuk memantau kondisi wilayah kelola di Bukit Batabuh.

Di pondok lapangan, lanskap hutan menjadi ruang untuk pembelajaran yang lebih luas. Peserta membahas Perhutanan Sosial, pengelolaan hutan berbasis masyarakat, dan kemungkinan usaha berbasis hasil hutan. Jernang tidak dibicarakan sebagai komoditas tunggal. Hasil hutan bukan kayu lain, termasuk gaharu dan pinang, juga dipertimbangkan sebagai bagian dari pilihan penghidupan yang sesuai dengan kondisi setempat.

Belajar dari Praktik

Keesokan harinya, pembelajaran berlanjut ke area jernang. Peserta mengamati berbagai jenis jernang dan mengikuti kegiatan panen bersama anggota Bukik Ijau. Inilah pembelajaran lapangan dalam bentuk yang paling praktis: mengenali tumbuhan, melihat cara buah dikumpulkan, dan memahami kondisi hutan tempat jernang dibudidayakan.

Seorang laki-laki menjangkau tandan jernang pada rotan yang tumbuh di antara vegetasi hutan.
Anggota KTH Bukik Ijau memanen buah jernang di wilayah kelola masyarakat di Bukit Batabuh.

Panen tersebut merupakan pengamatan pada satu hari, bukan ukuran produksi tahunan. Peserta mengumpulkan 13 kilogram buah dari empat batang Jernang Jantung dan Jernang Pinang, yang menghasilkan 1,5 kilogram resin. Mereka juga memanen 5 kilogram Jernang Beruk. Angka-angka ini memberi dasar konkret untuk membahas praktik panen, pengolahan, dan potensi jernang, tanpa menganggap satu kegiatan lapangan dapat langsung menggambarkan keadaan rumah tangga atau lanskap yang lebih luas.

Pembelajaran berlangsung dua arah. Masyarakat membagikan pengetahuan praktis yang dibangun melalui budidaya dan pemanfaatan hutan. Para pengunjung membawa pertanyaan dari lanskap serta pengalaman mereka sendiri. Peserta dari luar Air Buluh, termasuk masyarakat sekitar, menggunakan pertukaran ini untuk memikirkan arti pengelolaan jernang di wilayah mereka yang juga menghadapi perubahan sumber daya dan akses hutan.

Dua orang berjongkok di lantai hutan sambil mengamati tumbuhan di antara vegetasi rapat.
Peserta dari Tebo mempelajari jernang bersama masyarakat di wilayah kelola Bukik Ijau.

Lebih dari Sekadar Komoditas Hutan

Perjalanan lapangan ini menunjukkan mengapa penghidupan berbasis hutan tidak dapat dipahami hanya melalui produknya. Budidaya dan panen jernang bergantung pada hutan di sekitarnya, sekaligus pada organisasi masyarakat. Anggota kelompok memerlukan cara untuk berbagi tanggung jawab, menentukan waktu dan cara mengunjungi lokasi, merawat area budidaya, serta merespons ketika buah hilang atau dicuri.

Keamanan menjadi salah satu persoalan praktis yang dibahas selama kegiatan. Rute menuju hutan cukup berat, dan keterbatasan akses dapat menyulitkan patroli. Peserta juga membahas pentingnya informasi pasar yang dapat diandalkan. Jernang menawarkan peluang yang relevan secara lokal, tetapi keputusan tentang perluasan, pengolahan, atau penjualan harus didasarkan pada pemahaman pasar dan harga yang lebih jelas. Karena itu, pengembangan penghidupan perlu bergerak sesuai kemampuan dan pengalaman setempat, bukan mengikuti model dari luar.

Bagi Hutanriau, pembelajaran praktis ini menjadi bagian penting dari inisiatif. Organisasi bekerja bersama masyarakat untuk memperkuat hal-hal yang telah mereka bangun: kelembagaan lokal, informasi spasial, kehadiran di hutan, pengelolaan jernang, dan hubungan dengan lembaga pengelola hutan. Tujuannya bukan memisahkan penghidupan dari konservasi, tetapi memahami bagaimana penghidupan yang bertumpu pada hutan yang tetap berdiri dapat mendukung hubungan yang lebih bertahan lama dengan lanskap.

Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat

Jejak Si Darah Naga merupakan bagian dari inisiatif RRI Air Buluh yang lebih luas, didukung Rights and Sumber Daya Initiative melalui Strategic Response Mechanism. Dari Oktober 2017 hingga Maret 2018, Hutanriau bekerja bersama KTH Bukik Ijau, KTH Sungai Manggis Sejahtera, dan KPH Singingi dalam pemetaan partisipatif, pengorganisasian masyarakat, pengelolaan hasil hutan bukan kayu, serta persiapan Perhutanan Sosial.

Perjalanan ini memperlihatkan hubungan antarkomponen tersebut. Diskusi di pondok lapangan melibatkan KPH Singingi dan peserta lain, membuka ruang untuk menghubungkan praktik lokal dengan lembaga pengelola hutan. Sebelumnya, Bukik Ijau dan Sungai Manggis Sejahtera telah mengajukan dokumen untuk proses Perhutanan Sosial. Perjalanan ini tidak menyelesaikan semua persoalan kelembagaan, tetapi memperkuat percakapan serta hubungan praktis yang diperlukan untuk pengelolaan hutan berbasis masyarakat dalam jangka panjang.

Seorang pria berbicara kepada sekelompok peserta yang berdiri dan duduk di area hutan dekat pondok.
KPH Singingi dan peserta kegiatan berdialog mengenai pengelolaan hutan, jernang, dan Perhutanan Sosial di lapangan.

Bukti spasial juga penting. Pemetaan membantu kelompok masyarakat menjelaskan wilayah kelola mereka dan membahasnya dengan lebih jelas. Di wilayah Bukik Ijau, kerja ini berjalan bersama rutinitas yang memberi arti nyata pada peta: kunjungan, budidaya, patroli, diskusi, dan kerja bersama untuk menjaga kelompok.

Ketika peserta kembali ke Air Buluh, arti Jejak Si Darah Naga lebih besar daripada buah yang mereka bawa. Jernang memberi alasan praktis untuk terus belajar dari hutan, menjaga kehadiran masyarakat, dan mengembangkan pilihan penghidupan yang tidak mengharuskan hutan menghilang. Masa depannya tetap terhubung dengan vegetasi yang menopangnya, organisasi yang merawatnya, dan keputusan sehari-hari yang membentuk hubungan masyarakat dengan Bukit Batabuh.

Buah jernang berwarna gelap terhampar bersama tangkai dan material tumbuhan.
Buah jernang hasil panen dari wilayah kelola KTH Bukik Ijau.

Lihat proyek terkait

Pelajari Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat dan Penghidupan Berbasis Jernang di Bukit Batabuh, inisiatif Air Buluh yang lebih luas, serta kerja Hutanriau bersama kelompok pengelola hutan masyarakat di Bukit Batabuh.

Similar Posts